42 tahun sudah Wara berkiprah di Nusantara. Bukan muda lagi jika ditilik dari usia manusia pada umumnya. Sudah hampir setengah abad. Seiring dengan pertambahan usianya, Wara terus-menerus bebenah diri. Beragam peraturan baru silih berganti muncul untuk lebih menyempurnakan keberadaan dan jati diri salah satu anggota kebanggan TNI AU ini. Diantaranya adalah bergulirnya wacana untuk menambah GAM baru bagi Wara, khususnya bagi Wara muslimah yang menginginkan untuk menyempurnakan agamanya dengan mengenakan jilbab. Walaupun masih baru wacana, namun hal itu cukup merupakan angin segar bagi para Wara yang telah lama mendambakannya.
Seperti pernah ditulis pada beberapa edisi yang lalu mengenai “Fenomena Jilbab”, bahwa perintah berjilbab telah disyariatkan bagi para muslimah yang beriman seperti tersurat dalam Al-Quran maupun hadits Rasulullah saw. Allah swt. menjelaskan sifat-sifat pakaian wanita dengan firman-Nya :
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab : 59)
Allah swt. juga menjelaskan penutup kepala dengan firman-Nya :
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (An-Nuur : 31)
Dalam hadits pun disebutkan :
“Dua golongan termasuk penghuni neraka dan belum pernah kulihat sebelumnya; yaitu wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, jalannya berlenggak-lenggok, rambut kepala mereka seperti punggung unta yang miring. Mereka tidak melihat surga dan tidak menciumnya. Dan orang-orang laki-laki yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi dan mereka gunakan untuk memukul manusia.”
Dari keterangan diatas disebutkan bahwa dua golongan manusia tersebut tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 500 tahun. Maka, maukah kita, sanggupkah kita termasuk kedalam golongan tersebut? Sedemikian jauhnya dari surga yang menjadi impian dan harapan setiap manusia beriman? Na’udzubillah min dzalik.
Sebagai pembanding, mari kita lihat negara-negara barat yang sekuler, dimana umat muslim adalah minoritas, seperti Amerika dan Inggris. Di Amerika, mereka telah memberi kesempatan bagi muslimah yang ingin menjadi tentara dan mereka diperbolehkan mengenakan jilbab.
Sekarang ini, banyak tentara Amerika yang berjilbab.Hal serupa dilakukan juga oleh Inggris. Warga negara Inggris yang muslimah dibuka kesempatan untuk menjadi polisi. Untuk mereka juga disediakan contoh seragam jilbab yang akan dikenakan bila kelak mereka menjadi polisi.
Karena itulah, di negara-negara tersebut, dimana tentara wanitanya berperan di lapangan tidak berbeda dengan tentara prianya, tidak menganggap jilbab sebagai penghalang dari aktivitas mereka. Mengapa kita tidak bisa? Negara kita sudah dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia.
Muslimah Indonesia sudah banyak yang tampil menjadi wanita karier, pengusaha sukses, artis, dan lain sebagainya. Mengapa tidak dengan tentara wanitanya? Selama ini, pandangan masyarakat mengenai tentara masih cukup baik. Terutama tentara wanitanya. Tentara masih dianggap sebagai contoh dan teladan dalam beberapa aspek. Alangkah baiknya apabila hal tersebut diikuti dengan memberikan contoh dalam berbusana muslim, dan tentu saja diikuti dengan akhlak yang baik. Tentu hal tersebut akan semakin mengangkat pamor TNI di mata masyarakat.
Gagasan mengenai tentara berjilbab ini, telah lama diwacanakan. Wacana tersebut menguat saat salah seorang anggota Komisi I DPR RI berkunjung ke Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat di Bandung beberapa waktu lalu. Saat berbincang dengan para Kowad disana, anggota Komisi I tersebut menangkap adanya keinginan dari para Kowad tersebut untuk mengenakan jilbab, namun masih terbentur dengan peraturan. Fenomena keinginan yang terbentur peraturan inipun telah lama dan umum dijumpai di kalangan wanita TNI, dimana mereka mengenakan busana muslimah yang tertutup rapat diluar jam dinas, namun terpaksa menanggalkannya pada jam dinas. Hal tersebut selanjutnya disampaikan pada saat dengar pendapat dengan Kepala Staf Angkatan Darat. KSAD menyambut positif gagasan tersebut dan berjanji akan menyampaikan hal itu kepada Panglima TNI. Namun tentunya, hal ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara komando atas Kowad, Kowal dan Wara, karena keputusan akan berada di tangan mereka.
Bagaimana selanjutnya? Adakah langkah lebih lanjut untuk menindaklanjuti hal ini? Tentunya dengan komitmen, bahwa pemakaian jilbab tidak akan mengurangi kualitas kinerja dan produktivitas wanita TNI itu sendiri. Dan sebaliknya, akan meningkatkan mutu kerja dan akhlak mereka baik dalam pergaulan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan menjadi sorotan dan contoh dalam masyarakat. Dan tentu saja kita tidak lantas akan jadi muslimah yang ekstrim, seperti tentara-tentara wanita di Iraq, Iran atau Afghanistan. Karena kita adalah TNI yang tetap memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Mengabdi pada bangsa dan negara tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan. Namun kita dapat mencontoh profesionalisme mereka. Dengan gamis yang longgar sepanjang mata kaki dan jilbab yang menutupi dada, mereka tetap dapat menyandang senjata, berpedang, melakukan tugas-tugas yang tak beda dengan pria. Jika kelak para pimpinan memutuskan untuk mulai membicarakan hal ini dengan lebih serius, pengenaan jilbab dapat disesuaikan dengan penggunaan seragam yang telah ada, dengan menambah beberapa modifikasi. Misalnya dengan penggunaan celana panjang, dan sebagainya. Di masa kini atlet sudah diperkenankan mengenakan jilbab atau busana muslimah. Itu berarti bahwa pilihan berbusana mereka tidak menghalangi aktivitas mereka. Dan berarti bahwa wanita TNI pun tidak perlu khawatir akan terhalangnya aktivitas mereka. Apabila kewajiban bagi negara dan kewajiban dalam agama dapat berjalan seirama… Alangkah indahnya dunia…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
dear dr nurria,
saya belum baca artikel anda keseluruhan tapi lihat judulnya saja saya sudah setuju! karena isteri saya adalah wanita berjilbab, jadi saya sangat senang jika teman-teman tentara wanita pun berjilbab. 15 tahun silam isteri saya pernah "ditekan" oleh bossnya (isteri komandan Lanud X) karena pake jilbab, eh sekarang isteri 2 boss TNI yaitu KSAU dan KSAD pake jilbab semua! alhamdulillah...artinya ini pertanda bahwa kita sedang menuju "jalur yang benar". oke kita tunggu realisasinya...
agus smart
Posting Komentar