Kamis, 03 Januari 2008

Lily from the East

Ayah dan Ibu nampak letih. Namun bayang keletihan itu seketika terhapus dengan rasa sukacita bercampur haru saat melihatku, anak sulungnya yang telah bertahun terpisah. Ayah nampak lebih kurus. Ubannya semakin banyak dibanding 3 tahun lalu. Tapi badannya tetap liat dan kesat, khas badan petani desa yang telah tertempa puluhan tahun kerja keras. Mata ibu berkaca-kaca memandangku dengan haru dan penuh rindu. Wajahnya masih seperti yang dulu, lembut, sabar dan penuh kasih. Kupeluk mereka bergantian. Rindu yang terpendam selama 3 tahun, terbalas sudah.
“ Apa kabar Ayah, Ibu? Sehat? Mana Tiwi dan Ragil?” tanyaku sambil menyeka mataku sendiri yang berkaca-kaca.
“ Alhamdulillah Nak. Kami sehat. Kau sendiri? Kau kurus dan lebih hitam ya?” balas Ayah mencoba bercanda.
“ Adikmu entah kemana tadi. Si Ragil tadi mengeluh haus, lantas Tiwi mengajaknya mencari minuman. Ah… itu mereka...” jawab ibu sambil menunjuk 2 sosok di kejauhan. Tiwi sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Pasti dia jadi kembang di kampung. Si Ragil sendiri sudah beberapa senti lebih tinggi dari 3 tahun yang lalu. Bahkan dia sekarang sudah setinggi bahuku walaupun usianya baru 10 tahun.
“ Mas Bintaaaaang….” teriak mereka hampir bersamaan sambil menghambur ke arahku. Kupeluk mereka bergantian. Rindu sekali kurasa. Masih jelas kuingat bagaimana dulu kami sering ikut Ayah dan Ibu ke ladang, membuat boneka dari jerami, berkejaran di sela pepohonan…
“ Waaahhh, mas Bintang kereeenn… Gagah sekali. Beda sama dulu.” Ujar Tiwi sambil memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memegang-megang berbagai atribut yang tersemat di bajuku. Bertanya-tanya “apa ini-apa itu”. Kulayani mereka dengan senang hati.
“ Si Ragil senang sekali lihat atraksi-atraksi yang tadi itu. Bagus sekali ya? Apa itu tadi namanya?” ujar ibu.
“ Iya Mas. Ada yang pake topeng harimau ya… Bajunya juga bagus-bagus. Wuah, gagah pokoknya.” Sahut Ragil dengan bersemangat.
“ Oh, itu grup marching band sini. Bagus kan? Ragil mau jadi seperti mereka?”
“ Mereka itu tentara juga ya?”
“ Iya, seperti Mas-mu ini. Mas dulu juga main seperti mereka waktu senior-senior Mas dilantik.” Jawabku sambil mengacak rambutnya.
“ Oh, begitu… Gak mau ah.. Ragil gak mau jadi tentara. Orang di kampung bilang, jadi tentara itu gak gampang. Trus nanti gak bisa pulang ke kampung lagi. Kerjanya pindah-pindah terus. Kasihan Ayah sama Ibu nanti. Sendirian di kampung. Ragil mau di kampung aja ah. Jadi petani, seperti Ayah. Nemenin Ayah sama Ibu… Biar Mas Bintang aja yang jadi tentara. Kita sudah senang sekali Mas…” ujarnya dengan bersemangat. Dalam hati aku kagum pada adik bungsuku ini. Sejak dulu dia memang paling dekat dan paling menurut dengan Ayah dan Ibu.
“ Oh iya Mas, tadi Tiwi juga lihat banyak perempuan yang pake baju tentara juga. Itu tentara betulan Mas?” tanya Tiwi. Maklumlah, selama ini mereka belum pernah melihat wanita TNI.
“ Oh, iya. Mereka tentara juga. Ada Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara juga.”
“ Wah, keren ya Mas. Kelihatannya gagah gitu. Tiwi jadi pengen jadi tentara juga. Bisa gak Mas?”
“ Ya bisa banget. Makanya sekolah yang pinter. Nanti lulus SMA kamu bisa daftar jadi bintara. Atau kamu mau kuliah dulu, terus setelah sarjana, kamu bisa daftar langsung jadi perwira.” Jelasku. Tiwi nampak sangat tertarik dan menimbang-nimbang kemungkinan yang ada.
“ Tapi, nanti pendidikannya juga 3 tahun kayak Mas Bintang?” tanyanya lagi.
“ Enggak. Kalau bintara, pendidikannya sekitar 5 bulan. Kalau perwira sekitar 7 bulan.”
“ Wah, enak ya, cuma sebentar. Tiwi mau ah, jadi tentara wanita. Boleh kan, Bu?” tanyanya pada Ibu sambil merangkul lengannya.
“ Ibu sih, terserah kamu saja. Yang penting kamu sekolah yang pinter sampai lulus.. Mau langsung daftar, atau mau kuliah dulu, terserah kamu. Ayah dan Ibu ini cuma sekedar membiayai dan mendoakan. Mendukung semua cita-cita kalian, asalkan baik..” ujar Ibu sambil tersenyum dan mengelus kepala Tiwi.
Kami pun berjalan beriringan meninggalkan lokasi upacara menuju tempat penginapan. Sesekali kami berhenti, menyalami dan mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman seangkatanku dan keluarganya yang kami temui dalam perjalanan.

Sesampai kami di penginapan, kami merebahkan diri sambil terus bercerita. Menceritakan hal-hal yang terjadi selama 3 tahun kami berpisah. Tentang si Wening, gadis manis teman SMP ku, yang dulu sempat naksir aku, tapi tak kutanggapi karena aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Kata Tiwi, dia kini sudah menikah dengan Agus, anak juragan Gunadi, dan sudah punya 1 anak. Ragil berkelakar tentang si Feri, teman sekolah Tiwi yang sering datang ke rumah dengan berbagai alasan untuk mendekati Tiwi, membuat kakaknya itu jadi bersemu merah. Tentang Uwak Untung yang meninggal bulan puasa lalu karena tertimpa pohon yang tumbang saat berladang di hari hujan. Tentang lapangan bola tempat kami biasa bermain yang kini semakin ramai karena di sekelilingnya banyak dibangun tempat jualan berbagai macam barang dagangan. Semua itu membuatku semakin rindu akan kampung halamanku. Tak sabar rasanya ingin segera pulang, berkeliling desa, bersepeda, mengunjungi tempat-tempat yang dulu biasa kukunjungi, naik ke hutan mencari durian dan buah-buah hutan yang enak, dan melihat perubahan apa saja yang telah terjadi selama aku pergi. Esok… Esok aku akan pulang..




Tak terasa 6 tahun sudah aku berdinas. Sudah 2 kali aku berpindah tempat tugas. Pangkatku pun kini sudah menjadi Letnan Satu. Kini aku berdinas di Ibukota. Selama berdinas, baru sekali aku pulang kampung. Itu saat aku mutasi, dari tempat dinas pertamaku, di pulau kecil di Timur Indonesia, ke tempat kerjaku yang sekarang. Kusempatkan waktu untuk sejenak pulang barang sehari dua. Waktu itu aku hanya bertemu dengan Ayah, Ibu dan Ragil yang sudah tumbuh semakin tinggi setinggi aku. Sedangkan Tiwi, akhirnya membulatkan tekad untuk mendaftar bintara setamatnya SMA, dan saat itu dia sudah 2 bulan pendidikan. Saat pelantikannya 4 tahun yang lalu, akupun dengan sangat menyesal, hanya bisa mengucapkan selamat lewat telefon, karena saat itu aku sedang dinas luar mengikuti Komandanku. Rindu sekali aku padanya. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana tampangnya sekarang dalam seragam dinas. Pasti dia bertambah cantik. Dan 9 April ini, adalah kesempatan kami untuk bertemu. Dari ceritanya, dia kini jadi salah satu peterjun wanita yang cukup bisa dibanggakan. Dan dalam upacara nanti, dia akan ikut memeriahkannya dalam salah satu atraksi terjun. Tentu saja aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku telah berjanji pada Ayah dan Ibu di kampung untuk merekam atraksinya nanti.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sejak pagi, aku dan puluhan orang lainnya sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu di lapangan upacara. Jangan sampai ada yang kurang, karena Inspektur Upacaranya adalah Kepala Staf. Pada jam yang telah disepakati, upacara dimulai. Semua berjalan lancar. Selepas upacara, tiba saatnya menampilkan berbagai atraksi yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Marching band, devile, peragaan bela diri, akrobatik pesawat tempur, dan akhirnya yang kutunggu-tunggu, terjun payung. Dari ceritanya saat menelfonku beberapa waktu yang lalu, hari ini dia akan terjun membawa bendera Swa Bhuwana Paksa. Kehormatan itu dipercayakan padanya karena prestasinya yang memang luar biasa selama ini, memenangi berbagai kejuaraan di dalam dan di luar negeri. Entah sudah berapa medali emas dikoleksinya. Bangga sekali aku pada adikku ini. Prestasinya ternyata melesat melebihi aku sendiri.

Dari kejauhan payung-payung mulai mengembang. Satu persatu para peterjun mendarat di titik yang telah ditentukan dengan mulus. Berbagai formasi disuguhkan dengan sukses. Sampai akhirnya tiba giliran para pembawa bendera. Satu persatu bendera mulai nampak. Itu dia adikku, membawa bendera besar berwarna biru kebanggan kita. Jantungku ikut berdebar mendoakan semoga semuanya berjalan mulus. Semakin dekat ke permukaan tanah, perasaanku semakin mengharu biru antara rindu dan bangga. Bendera ditangkap dan dirapikan, dan adikku pun mendarat dengan mulus persis di depan tribun VIP. Dengan tangkas dia melepaskan parasutnya, mencabut setangkai mawar merah dari pinggangnya, berjalan menuju Inspektur Upacara, memberi hormat dengan sigap dan menyerahkan bunga itu sebelum balik kanan dan berlari menuju tempat berkumpul.
Aku merekam semua itu dalam kamera kecilku. Tiwi yang dulu lemah lembut, lugu dan tenang, kini menjelma menjadi sesosok wanita TNI yang tangguh, gagah berani, kuat, sigap namun tetap cantik. Malahan, lebih cantik dari yang pernah kuingat. Aku bangga padanya.
Dia cantik seperti bunga, namun tetap sederhana, tidak jumawa. Harum mewangi karena prestasi dan nama baiknya. Membawa nama keluarga, tempat asalnya, almamaternya, TNI dan negara Indonesia. Karena itu, kujuluki dia Lily. Karena kecantikannya yang sederhana seperti bunga Lily. Lily from the East…

Tidak ada komentar: