Jumat, 04 Januari 2008

Tentara Berjilbab : Why Not?

42 tahun sudah Wara berkiprah di Nusantara. Bukan muda lagi jika ditilik dari usia manusia pada umumnya. Sudah hampir setengah abad. Seiring dengan pertambahan usianya, Wara terus-menerus bebenah diri. Beragam peraturan baru silih berganti muncul untuk lebih menyempurnakan keberadaan dan jati diri salah satu anggota kebanggan TNI AU ini. Diantaranya adalah bergulirnya wacana untuk menambah GAM baru bagi Wara, khususnya bagi Wara muslimah yang menginginkan untuk menyempurnakan agamanya dengan mengenakan jilbab. Walaupun masih baru wacana, namun hal itu cukup merupakan angin segar bagi para Wara yang telah lama mendambakannya.

Seperti pernah ditulis pada beberapa edisi yang lalu mengenai “Fenomena Jilbab”, bahwa perintah berjilbab telah disyariatkan bagi para muslimah yang beriman seperti tersurat dalam Al-Quran maupun hadits Rasulullah saw. Allah swt. menjelaskan sifat-sifat pakaian wanita dengan firman-Nya :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab : 59)

Allah swt. juga menjelaskan penutup kepala dengan firman-Nya :
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (An-Nuur : 31)

Dalam hadits pun disebutkan :
“Dua golongan termasuk penghuni neraka dan belum pernah kulihat sebelumnya; yaitu wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, jalannya berlenggak-lenggok, rambut kepala mereka seperti punggung unta yang miring. Mereka tidak melihat surga dan tidak menciumnya. Dan orang-orang laki-laki yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi dan mereka gunakan untuk memukul manusia.”

Dari keterangan diatas disebutkan bahwa dua golongan manusia tersebut tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 500 tahun. Maka, maukah kita, sanggupkah kita termasuk kedalam golongan tersebut? Sedemikian jauhnya dari surga yang menjadi impian dan harapan setiap manusia beriman? Na’udzubillah min dzalik.

Sebagai pembanding, mari kita lihat negara-negara barat yang sekuler, dimana umat muslim adalah minoritas, seperti Amerika dan Inggris. Di Amerika, mereka telah memberi kesempatan bagi muslimah yang ingin menjadi tentara dan mereka diperbolehkan mengenakan jilbab.

Sekarang ini, banyak tentara Amerika yang berjilbab.Hal serupa dilakukan juga oleh Inggris. Warga negara Inggris yang muslimah dibuka kesempatan untuk menjadi polisi. Untuk mereka juga disediakan contoh seragam jilbab yang akan dikenakan bila kelak mereka menjadi polisi.
Karena itulah, di negara-negara tersebut, dimana tentara wanitanya berperan di lapangan tidak berbeda dengan tentara prianya, tidak menganggap jilbab sebagai penghalang dari aktivitas mereka. Mengapa kita tidak bisa? Negara kita sudah dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia.

Muslimah Indonesia sudah banyak yang tampil menjadi wanita karier, pengusaha sukses, artis, dan lain sebagainya. Mengapa tidak dengan tentara wanitanya? Selama ini, pandangan masyarakat mengenai tentara masih cukup baik. Terutama tentara wanitanya. Tentara masih dianggap sebagai contoh dan teladan dalam beberapa aspek. Alangkah baiknya apabila hal tersebut diikuti dengan memberikan contoh dalam berbusana muslim, dan tentu saja diikuti dengan akhlak yang baik. Tentu hal tersebut akan semakin mengangkat pamor TNI di mata masyarakat.

Gagasan mengenai tentara berjilbab ini, telah lama diwacanakan. Wacana tersebut menguat saat salah seorang anggota Komisi I DPR RI berkunjung ke Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat di Bandung beberapa waktu lalu. Saat berbincang dengan para Kowad disana, anggota Komisi I tersebut menangkap adanya keinginan dari para Kowad tersebut untuk mengenakan jilbab, namun masih terbentur dengan peraturan. Fenomena keinginan yang terbentur peraturan inipun telah lama dan umum dijumpai di kalangan wanita TNI, dimana mereka mengenakan busana muslimah yang tertutup rapat diluar jam dinas, namun terpaksa menanggalkannya pada jam dinas. Hal tersebut selanjutnya disampaikan pada saat dengar pendapat dengan Kepala Staf Angkatan Darat. KSAD menyambut positif gagasan tersebut dan berjanji akan menyampaikan hal itu kepada Panglima TNI. Namun tentunya, hal ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara komando atas Kowad, Kowal dan Wara, karena keputusan akan berada di tangan mereka.

Bagaimana selanjutnya? Adakah langkah lebih lanjut untuk menindaklanjuti hal ini? Tentunya dengan komitmen, bahwa pemakaian jilbab tidak akan mengurangi kualitas kinerja dan produktivitas wanita TNI itu sendiri. Dan sebaliknya, akan meningkatkan mutu kerja dan akhlak mereka baik dalam pergaulan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan menjadi sorotan dan contoh dalam masyarakat. Dan tentu saja kita tidak lantas akan jadi muslimah yang ekstrim, seperti tentara-tentara wanita di Iraq, Iran atau Afghanistan. Karena kita adalah TNI yang tetap memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Mengabdi pada bangsa dan negara tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan. Namun kita dapat mencontoh profesionalisme mereka. Dengan gamis yang longgar sepanjang mata kaki dan jilbab yang menutupi dada, mereka tetap dapat menyandang senjata, berpedang, melakukan tugas-tugas yang tak beda dengan pria. Jika kelak para pimpinan memutuskan untuk mulai membicarakan hal ini dengan lebih serius, pengenaan jilbab dapat disesuaikan dengan penggunaan seragam yang telah ada, dengan menambah beberapa modifikasi. Misalnya dengan penggunaan celana panjang, dan sebagainya. Di masa kini atlet sudah diperkenankan mengenakan jilbab atau busana muslimah. Itu berarti bahwa pilihan berbusana mereka tidak menghalangi aktivitas mereka. Dan berarti bahwa wanita TNI pun tidak perlu khawatir akan terhalangnya aktivitas mereka. Apabila kewajiban bagi negara dan kewajiban dalam agama dapat berjalan seirama… Alangkah indahnya dunia…

Kamis, 03 Januari 2008

Menjadi Istri yang Selalu Dicintai Suami

Kebanyakan istri beranggapan bahwa mereka berhak atascinta suaminya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, karena memangsalah satu pilar tegaknya sebuah rumah tangga bahagia adalah adanyamawaddah (cinta) antara suami istri. Tetapi patut direnungkan, bahwacinta tidak datang dengan sendirinya, dan ketika ia hadir, tidak adayang dapat menjamin ia akan menetap selamanya. Apa artinya ini? Ya,artinya adalah bahwa cinta memerlukan usaha! Jika ingin suami selalucinta kepada Anda, Anda tidak boleh hanya diam dan berkata, "lho, diakan suami saya, otomatis dia mencintai saya dong! Kalau tidak, ngapaindia memilih saya untuk jadi istrinya?"Bahwa suami mencintai Anda karena Anda adalah istrinya memang betul,tetapi apakah Anda yakin cintanya selalu ada dan terus ada selamanya?Banyak perempuan yang tidak merasa yakin, setelah menjalani kehidupanrumah tangganya sekian tahun, apakah suami saya masih mencintai sayaseperti dulu? Karena itu, berhentilah bersikap pragmatis, berusahalahmembuat suami Anda selalu cinta, bahkan dari hari ke hari semakinbertambah cinta kepada Anda!Sebelum membicarakan cara membuat suami selalu cinta, ada satu halyang menjadi inti persoalan dan tidak boleh dilupakan, yaitu bahwacinta adalah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya, daninilah yang disebut cinta yang hakiki atau cinta sejati. Allah-lahpemilik cinta, Allah-lah yang menjadikan cinta antara suami-istri."Dan diantara ayat-ayatNya adalah diciptakanNya untukmu istri-istridari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dandijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya padayang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QSAr-Ruum:21)

Karena itu, diatas segala-galanya, seorang istri yang ingin selalu dicintai suaminya hendaknya menyadari bahwa jurus yang paling pentingdan efektif untuk meraih itu adalah dengan mendekatkan diri kepadaAllah SWT. Bagaimana caranya? Yaitu dengan berusaha sekuat tenagauntuk mentaati dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya.Dengan kata lain, dengan cara berusaha menjadi seorang muslimahshalihah. Harm bin Hayyan, seorang ulama di masa Khalifah Umar binKhattab ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan dirinyakepada Allah SWT, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orangmukmin kepadanya, dan istri yang senantiasa mendekatkan dirinya kepadaAllah, maka Allah akan mendekatkan hati suaminya kepadanya sampai iamendapatkan cintanya."

Enam Saran Agar Suami Selalu Cinta

Berusaha dengan tulus dan ikhlas 'menyerahkan hidupnya' untuk berbaktikepada suami sambil berharap pahala Allah. Potensi yang dimilikinya,kedudukannya di masyarakat dan kesibukannya beraktivitas diluar rumahtidak membuat dirinya terlena dan lupa bahwa ia memiliki peluangmeraih syurga Allah dengan berbakti kepada suaminya. "Apabila seorangperempuan menunaikan shalat, puasa, memelihara kemaluannya danberbakti, mentaati suaminya, dia akan masuk syurga." (HR al-Bazzar).Istri seperti ini memiliki nilai yang tinggi di mata suaminya dan akanselalu dicintai suaminya.

Berusaha untuk menjadi perempuan yang bersahaja dalam nafkah. Tidakbanyak menuntut, menerima dengan rasa syukur betapapun sedikitnyapemberian suami, dan tidak berlebihan dalam membelanjakan nafkah yangdiberikan suami. Bila Anda sanggup selalu bersikap seperti ini, cintasuami akan selalu tercurah untuk Anda.

Sederhana dalam penampilan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwaumumnya laki-laki tidak menyukai perempuan yang berpenampilan seronokdengan wajah penuh riasan tebal, sebaliknya kesederhanaan lebihmenarik bagi mereka karena menurut mereka lebih memancarkan kecantikan perempuan. Tetapi ini tentu saja relatif, karena itu, kenalikecenderungan suami Anda, apakah ia menyukai penampilan yang wah atauyang sederhana? Kemudian setiap bersamanya, sesuaikan penampilan Andadengan kecenderungannya itu. "Sebaik-baik perempuan adalah yangmenyenangkanmu bila engkau memandangnya, mentaatimu bila engkauperintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu bila engkau tidak dirumah" (HR Thabrani).

Berusaha untuk selalu sabar dan tidak menyakiti hati suami. Adanyaperselisihan atau perbedaan pendapat diantara suami istri terkadangdapat memicu terjadinya pertengkaran kecil atau besar. Bila Andamenghadapi keadaan ini, ingatlah, Anda sedang berhadapan denganseseorang yang Allah berikan kepadanya hak yang sangat besar atas diriAnda. "Seorang perempuan belum dianggap menunaikan hak Tuhannyasehingga ia menunaikan hak suaminya." (HR Ibnu Majah).

Karena itu apapun yang bergejolak dihati Anda, berusahalah untuk tetapsabar dan menahan diri untuk tidak menyakiti hati suami Anda."Tidaklah seorang perempuan menyakiti hati suaminya di dunia,melainkan bidadari calon istrinya (di akhirat) berkata, "Janganlahengkau sakiti dia, Allah membencimu. Sesungguhnya dia disisimu hanyasementara waktu, dan akan berpisah darimu untuk berkumpul dengankami." (HR Ahmad).
Percayalah, istri yang mampu bersikap seperti ini akan selalu dicintai suaminya.

Dapat mendampingi suami dalam suka dan duka. Roda kehidupan selaluberputar, kadang manusia mengalami saat-saat yang menggembirakandimana kehidupan berjalan sesuai dengan harapan. Adakalanya manusiamengalami hal yang sebaliknya. Nah, apapun keadaan yang dialami suamiAnda, berusahalah menjadi pendampingnya yang setia. Disaat sukamenjadi pengingat agar suami tidak terlena, disaat duka menjadipelipur lara.

Berusaha untuk menjadi partner yang menyenangkan di kamar tidur.Banyak perempuan masih merasa malu untuk bersikap agresif meski kepadasuaminya sendiri. Ini karena adanya anggapan bahwa perempuan yangagresif terkesan murahan dan tidak terhormat. Tentu saja anggapan initidak berlaku untuk seorang istri yang agresif kepada suaminyasendiri. Belajarlah cara dan teknik menyenangkan suami di tempat tidurdan Anda akan mendapati suami selalu melimpahkan cintanya untuk Anda!

Selamat mencoba!

Lily from the East

Ayah dan Ibu nampak letih. Namun bayang keletihan itu seketika terhapus dengan rasa sukacita bercampur haru saat melihatku, anak sulungnya yang telah bertahun terpisah. Ayah nampak lebih kurus. Ubannya semakin banyak dibanding 3 tahun lalu. Tapi badannya tetap liat dan kesat, khas badan petani desa yang telah tertempa puluhan tahun kerja keras. Mata ibu berkaca-kaca memandangku dengan haru dan penuh rindu. Wajahnya masih seperti yang dulu, lembut, sabar dan penuh kasih. Kupeluk mereka bergantian. Rindu yang terpendam selama 3 tahun, terbalas sudah.
“ Apa kabar Ayah, Ibu? Sehat? Mana Tiwi dan Ragil?” tanyaku sambil menyeka mataku sendiri yang berkaca-kaca.
“ Alhamdulillah Nak. Kami sehat. Kau sendiri? Kau kurus dan lebih hitam ya?” balas Ayah mencoba bercanda.
“ Adikmu entah kemana tadi. Si Ragil tadi mengeluh haus, lantas Tiwi mengajaknya mencari minuman. Ah… itu mereka...” jawab ibu sambil menunjuk 2 sosok di kejauhan. Tiwi sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Pasti dia jadi kembang di kampung. Si Ragil sendiri sudah beberapa senti lebih tinggi dari 3 tahun yang lalu. Bahkan dia sekarang sudah setinggi bahuku walaupun usianya baru 10 tahun.
“ Mas Bintaaaaang….” teriak mereka hampir bersamaan sambil menghambur ke arahku. Kupeluk mereka bergantian. Rindu sekali kurasa. Masih jelas kuingat bagaimana dulu kami sering ikut Ayah dan Ibu ke ladang, membuat boneka dari jerami, berkejaran di sela pepohonan…
“ Waaahhh, mas Bintang kereeenn… Gagah sekali. Beda sama dulu.” Ujar Tiwi sambil memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memegang-megang berbagai atribut yang tersemat di bajuku. Bertanya-tanya “apa ini-apa itu”. Kulayani mereka dengan senang hati.
“ Si Ragil senang sekali lihat atraksi-atraksi yang tadi itu. Bagus sekali ya? Apa itu tadi namanya?” ujar ibu.
“ Iya Mas. Ada yang pake topeng harimau ya… Bajunya juga bagus-bagus. Wuah, gagah pokoknya.” Sahut Ragil dengan bersemangat.
“ Oh, itu grup marching band sini. Bagus kan? Ragil mau jadi seperti mereka?”
“ Mereka itu tentara juga ya?”
“ Iya, seperti Mas-mu ini. Mas dulu juga main seperti mereka waktu senior-senior Mas dilantik.” Jawabku sambil mengacak rambutnya.
“ Oh, begitu… Gak mau ah.. Ragil gak mau jadi tentara. Orang di kampung bilang, jadi tentara itu gak gampang. Trus nanti gak bisa pulang ke kampung lagi. Kerjanya pindah-pindah terus. Kasihan Ayah sama Ibu nanti. Sendirian di kampung. Ragil mau di kampung aja ah. Jadi petani, seperti Ayah. Nemenin Ayah sama Ibu… Biar Mas Bintang aja yang jadi tentara. Kita sudah senang sekali Mas…” ujarnya dengan bersemangat. Dalam hati aku kagum pada adik bungsuku ini. Sejak dulu dia memang paling dekat dan paling menurut dengan Ayah dan Ibu.
“ Oh iya Mas, tadi Tiwi juga lihat banyak perempuan yang pake baju tentara juga. Itu tentara betulan Mas?” tanya Tiwi. Maklumlah, selama ini mereka belum pernah melihat wanita TNI.
“ Oh, iya. Mereka tentara juga. Ada Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara juga.”
“ Wah, keren ya Mas. Kelihatannya gagah gitu. Tiwi jadi pengen jadi tentara juga. Bisa gak Mas?”
“ Ya bisa banget. Makanya sekolah yang pinter. Nanti lulus SMA kamu bisa daftar jadi bintara. Atau kamu mau kuliah dulu, terus setelah sarjana, kamu bisa daftar langsung jadi perwira.” Jelasku. Tiwi nampak sangat tertarik dan menimbang-nimbang kemungkinan yang ada.
“ Tapi, nanti pendidikannya juga 3 tahun kayak Mas Bintang?” tanyanya lagi.
“ Enggak. Kalau bintara, pendidikannya sekitar 5 bulan. Kalau perwira sekitar 7 bulan.”
“ Wah, enak ya, cuma sebentar. Tiwi mau ah, jadi tentara wanita. Boleh kan, Bu?” tanyanya pada Ibu sambil merangkul lengannya.
“ Ibu sih, terserah kamu saja. Yang penting kamu sekolah yang pinter sampai lulus.. Mau langsung daftar, atau mau kuliah dulu, terserah kamu. Ayah dan Ibu ini cuma sekedar membiayai dan mendoakan. Mendukung semua cita-cita kalian, asalkan baik..” ujar Ibu sambil tersenyum dan mengelus kepala Tiwi.
Kami pun berjalan beriringan meninggalkan lokasi upacara menuju tempat penginapan. Sesekali kami berhenti, menyalami dan mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman seangkatanku dan keluarganya yang kami temui dalam perjalanan.

Sesampai kami di penginapan, kami merebahkan diri sambil terus bercerita. Menceritakan hal-hal yang terjadi selama 3 tahun kami berpisah. Tentang si Wening, gadis manis teman SMP ku, yang dulu sempat naksir aku, tapi tak kutanggapi karena aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Kata Tiwi, dia kini sudah menikah dengan Agus, anak juragan Gunadi, dan sudah punya 1 anak. Ragil berkelakar tentang si Feri, teman sekolah Tiwi yang sering datang ke rumah dengan berbagai alasan untuk mendekati Tiwi, membuat kakaknya itu jadi bersemu merah. Tentang Uwak Untung yang meninggal bulan puasa lalu karena tertimpa pohon yang tumbang saat berladang di hari hujan. Tentang lapangan bola tempat kami biasa bermain yang kini semakin ramai karena di sekelilingnya banyak dibangun tempat jualan berbagai macam barang dagangan. Semua itu membuatku semakin rindu akan kampung halamanku. Tak sabar rasanya ingin segera pulang, berkeliling desa, bersepeda, mengunjungi tempat-tempat yang dulu biasa kukunjungi, naik ke hutan mencari durian dan buah-buah hutan yang enak, dan melihat perubahan apa saja yang telah terjadi selama aku pergi. Esok… Esok aku akan pulang..




Tak terasa 6 tahun sudah aku berdinas. Sudah 2 kali aku berpindah tempat tugas. Pangkatku pun kini sudah menjadi Letnan Satu. Kini aku berdinas di Ibukota. Selama berdinas, baru sekali aku pulang kampung. Itu saat aku mutasi, dari tempat dinas pertamaku, di pulau kecil di Timur Indonesia, ke tempat kerjaku yang sekarang. Kusempatkan waktu untuk sejenak pulang barang sehari dua. Waktu itu aku hanya bertemu dengan Ayah, Ibu dan Ragil yang sudah tumbuh semakin tinggi setinggi aku. Sedangkan Tiwi, akhirnya membulatkan tekad untuk mendaftar bintara setamatnya SMA, dan saat itu dia sudah 2 bulan pendidikan. Saat pelantikannya 4 tahun yang lalu, akupun dengan sangat menyesal, hanya bisa mengucapkan selamat lewat telefon, karena saat itu aku sedang dinas luar mengikuti Komandanku. Rindu sekali aku padanya. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana tampangnya sekarang dalam seragam dinas. Pasti dia bertambah cantik. Dan 9 April ini, adalah kesempatan kami untuk bertemu. Dari ceritanya, dia kini jadi salah satu peterjun wanita yang cukup bisa dibanggakan. Dan dalam upacara nanti, dia akan ikut memeriahkannya dalam salah satu atraksi terjun. Tentu saja aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku telah berjanji pada Ayah dan Ibu di kampung untuk merekam atraksinya nanti.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sejak pagi, aku dan puluhan orang lainnya sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu di lapangan upacara. Jangan sampai ada yang kurang, karena Inspektur Upacaranya adalah Kepala Staf. Pada jam yang telah disepakati, upacara dimulai. Semua berjalan lancar. Selepas upacara, tiba saatnya menampilkan berbagai atraksi yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Marching band, devile, peragaan bela diri, akrobatik pesawat tempur, dan akhirnya yang kutunggu-tunggu, terjun payung. Dari ceritanya saat menelfonku beberapa waktu yang lalu, hari ini dia akan terjun membawa bendera Swa Bhuwana Paksa. Kehormatan itu dipercayakan padanya karena prestasinya yang memang luar biasa selama ini, memenangi berbagai kejuaraan di dalam dan di luar negeri. Entah sudah berapa medali emas dikoleksinya. Bangga sekali aku pada adikku ini. Prestasinya ternyata melesat melebihi aku sendiri.

Dari kejauhan payung-payung mulai mengembang. Satu persatu para peterjun mendarat di titik yang telah ditentukan dengan mulus. Berbagai formasi disuguhkan dengan sukses. Sampai akhirnya tiba giliran para pembawa bendera. Satu persatu bendera mulai nampak. Itu dia adikku, membawa bendera besar berwarna biru kebanggan kita. Jantungku ikut berdebar mendoakan semoga semuanya berjalan mulus. Semakin dekat ke permukaan tanah, perasaanku semakin mengharu biru antara rindu dan bangga. Bendera ditangkap dan dirapikan, dan adikku pun mendarat dengan mulus persis di depan tribun VIP. Dengan tangkas dia melepaskan parasutnya, mencabut setangkai mawar merah dari pinggangnya, berjalan menuju Inspektur Upacara, memberi hormat dengan sigap dan menyerahkan bunga itu sebelum balik kanan dan berlari menuju tempat berkumpul.
Aku merekam semua itu dalam kamera kecilku. Tiwi yang dulu lemah lembut, lugu dan tenang, kini menjelma menjadi sesosok wanita TNI yang tangguh, gagah berani, kuat, sigap namun tetap cantik. Malahan, lebih cantik dari yang pernah kuingat. Aku bangga padanya.
Dia cantik seperti bunga, namun tetap sederhana, tidak jumawa. Harum mewangi karena prestasi dan nama baiknya. Membawa nama keluarga, tempat asalnya, almamaternya, TNI dan negara Indonesia. Karena itu, kujuluki dia Lily. Karena kecantikannya yang sederhana seperti bunga Lily. Lily from the East…